TUGAS MANAJEMEN STRATEGI

MANAJEMEN STARTEJIK

YULI OKTAVIA

01111014

Strategi perusahaan mencerminkan penilaian manajemen terhadap situasi dan pilihannya tentang bagaimana mengejar tujuan perusahaan. Strategi bisa diuraikan dalam beberapa cara bisa melalui bentuk visi misi perusahaan atau pun melalui bentuk pemasaran.. Dalam pemasaran, strategi bisa dijelaskan sebagai pilihan dari 4P: Product (produk), Price (harga), Promotion (promosi), dan Place (tempat), yakni produk mana yang harus dihasilkan perusahaan; dan bagaimana harus didistribusikan (Kottler, 2000). Sedangkan dari segi input perusahaan, strategi operasi adalah pilihan rantai suplai perusahaan termasuk manajemen rantai terhadap sumber-daya dan kapabilitas-kapabilitas. Membuat visi misi perusahaan sangat berpengaruh terhadap masa depan perusahaan tersebut.

Sejarah perusahaan

CV. Micro Jaya Abadi Didirikan pada tanggal 16 mei 2000 di Surabaya oleh bapak Theodorus Bodyanto, ST.

Dengan banyaknya bisnis retail di Indonesia terutama Surabaya CV. Micro Jaya Abadi berusaha untuk memberikan inovasi-inovasi baru dalama pejualan agar bisa manjadi perusahaan yang maju, dan berikut uraian perkembangan CV. Micro Jaya Abadi.

  • Tahun 2000 : ditunjuk sebagai Dynabrade dan Bao distributor di Indonesia dan Dealer amplas Mirka di Surabaya
  • Tahun 2001 : ditunjuk sebagai Cooper Power Tool distributor di Indonesia dengan berbagai merk seperti Master Power, Apex, Airetool, Buckeye, Cleco, Dotco, Gardner Denver
  • Tahun 2002 : Pembukaan cabang yang pertama di kota Bekasi, Jawa Barat yang dipimpin oleh Bp Cornelis Hayuanta
  • Tahun 2003 : ditunjuk sebagai Standard Abrasives distributor di Indonesia
  • Tahun 2004 : ditunjuk sebagai 3M Distributor di Surabaya
  • Tahun 2005 : ditunjuk sebagai Menzerna distributor di Indonesia dan Norton Distributor di Surabaya
  • Tahun 2007 : ditunjuk sebagai CardScan distributor di Indoensia
  • Tahun 2008 : pembenahan struktur organisasi seiring dengan rencana expansi dari perusahaan
  • Tahun 2009 : Toko online Peralatan Industri www.OnlineMJA.com pada tanggal 30 December 2009
  • Tahun 2010 : Toko Modern Retail “TOOL STATION” lantai 1 di Jl Semarang 118 block B-16, Surabaya pada tanggal 11 Mei 2010 
  • Tahun 2011 : Toko Modern Retail “TOOL STATION” Lantai 2 pada tanggal 6 Juni 2011
  • Tahun 2012 : Toko Modern Retail “TOOL STATION” kedua di Jl Gajah Mada 15, Sidoarjo pada tanggal 15 February 2012

 

Visi Perusahaan :

Perusahaan kelas dunia dalam rantai distribusi.

Analisis

Micro jaya abadi mampu menjadi distributor alat-alat teknik yang ada di Surabaya dengan harapan bisa menjadi perusahaan yang berkembang di dunia meskipun belum menjadi perusahaan distributor kelas dunia,

 

 

Misi Perusahaan :

  • Kami adalah perusahaan yang berkembang dengan cepat dan konsisten dalam mengembangkan kepuasan yang luar biasa bagi pelanggan berdasarkan dinamika managemen dan karyawan yang solid, komitment dari pabrik/supplier dan pengembangan produk.
  • Kami mempunyai komitment untuk memberikan produk yang istimewa, berkualitas, pelayanan purna jual, dapat dipercaya, harga yang sesuai, didukung system computer online dengan standard internasional bersertifikasi ISO.
  • Kami mempunyai aneka ragam produk yang cepat laku dan mudah dibeli dengan didukung jaringan toko yang tersebar di dalam negeri dan luar negeri.
  • Kami focus pada rantai distribusi peralatan Industri untuk berbagai macam type industri dan pabrik dalam rangka meningkatkan cara kerja industri.
  • Kami adalah sebuah perusahaan yang terus belajar dengan rasa memiliki dari para karyawan dimana mereka bangga dengan pekerjaannya dan meningkatkan ilmu tentang produk, keahlian, sikap, mental untuk mencapai tujuan dari perusahaan dan impian dari mereka sendiri.
  • Kami membagikan pengalaman di bidang industry dengan cara memberikan konsultasi berdasarkan kebutuhan dari customer dan berkontribusi dalam pengembangan industry dan Negara.

Analisis

Micro adalah perusahaan yang berkembang dengan cepat, dengan daya saing yang besar mampu memberikan kepuasan pelanggan dengan baik. Dengan membuka beberapa toko yang ada di pulau jawa micro mapu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan selain itu dengan persaingan pasar yang sangat ketat dan kebutuhan alat-alat teknik yang sangat banyak di berbagai daerah, Micro telal membuka Toko Online dengan harga yang sangat menarik selain itu bisa langsung siap antar dengan armada peniriman yang sesuai dengan rute yang telah ditentukan. Dengan banyak sekali produk produk alat teknik yang ada micro mampu menjual produk-pruk berkualitas dengan harga yang berfariiatif melalui toko-tokonya.sayangnya sampai saat ini belum ada toko cabang yang ada diluar negeri yang sesuai dengan misi perusahaan, namun itu semua harus kita tunggu perkembangan perusaahaan selanjutnya.Micro mampu menjual alat-alat teknik tidak hanya untuk masyarakat biasa tetapi untuk kebutuhan-kebutuhan pabrik yang ada di seluruh Indonesia dengan pendistribusian Sale-sales yang sudah tersebar dengan pengenalan produk yang baik, denagn berkembangnya kemajuan lat-alat teknik maka seles promotionnya pun dibekali produk nwolage yang sangat baik agar pelanggan tidak salah dalam memesan barang. Dengan selalu mengarahkan pelanggan dalam pemesanan barang dan memberikan saran-saran yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

BUDAYA PERUSAHAAN :

KOMITMENT 100%

Saya memberikan komitment 100 % atas diri saya dan waktu saya untuk pencapaian VISI dan MISI PERUSAHAAN dan menjalankan BUDAYA PERUSAHAAN untuk meningkatkan KESUKSESAN perusahaan bersama team saat ini atau team masa depan, semua pelanggan dan supplier sepanjang waktu.

Berorientasi pada Pelaksanaan Tugas

Saya bersedia datang lebih awal dan pulang lebih malam untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab saya untuk memastikan tugas selesai sesuai dengan jadwal tanpa alasan apapun.

Berorientasi pada Pencapaian Hasil

Minat dan motivasi kerja yang berakar pada pencapaian hasil yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dorongan yang kuat dalam diri untuk selalu belajar dan tidak puas dengan hasil sekarang. Mau berubah dalam mencapai hasil yang lebih baik.

Berorientasi pada Pelayanan Pelanggan

Cara pandang yang memperhatikan kebutuhan orang lain yaitu pelanggan internal (pimpinan, rekan kerja,bawahan maupun kantor cabang) maupun pelanggan external (supplier dan end user). Mengutamakan kepentingan mereka dan berusaha melayani kebutuhan atau menyelesaikan masalah mereka dengan bersikap ramah, sopan, menghargai, memegang janji untuk melayani pimpinan, rekan kerja, bawahan, kantor cabang terutama customer dan supplier

Peduli terhadap Kualitas secara Detail

Sikap peduli terhadap kriteria yang ditetapkan dalam standard kerja, tidak minimalis dan memperhatikan rincian penting secara detail demi tercapainya mutu kerja yang terbaik

Komunikasi yang Terbuka dan Jujur

Saya hanya membicarkan hal-hal yang positif dan saling mendukung sesama tim. Tidak mengungkapkan hal-hal yang dapat menjatuhkan semangat tim dan selalu jujur dalam setiap tindakan maupun ucapan.

Rasa Memiliki Perusahaan

Saya mempunyai keyakinan yang kuat terhadap masa depan perusahaan untuk mewujudkan masa depan saya dan keluarga untuk memperoleh yang terbaik. Sehingga pengembangan perusahaan mejadi prioritas dalam hidup saya karena setiap kemajuan perusahaan berarti satu langkah maju menuju masa depan saya.

Inisiatif & Disiplin

Sikap bersegera / tanggap untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu, tidak menunggu perintah atau permintaan, namun memiliki sikap disiplin dengan tidak mengabaikan peraturan perusahaan ataupun kewenangan yang diberikan sesuai deskripsi kerja dari tiap bagian.

Pengembangan Diri

Selalu berusaha untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih sempurna dengan memperluas pengetahaun akan pandangan hidup, kepercayaan, dan kepandaian untuk menciptakan identitas baru yang lebih sempurna,

Bekerja dalam Team dan Berkerja Sama

Kesanggupan berkerja bersama – sama orang lain dengan saling mengisi, mendorong dan berusaha memberikan bantuan, kontribusi atau bahkan pengorbanan yang perlu demi mencapai kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sikap Patuh pada Atasan dan Hormat pada Rekan Kerja

Mempunyai sikap patuh pada arahan, petunjuk, maupun perintah dari atasan dan mengerjakan apa yang diminta sesuai dengan dead line yang diberikan dan memiliki rasa hormat dan perhatian terhadap rekan kerja yang setara /sejajar dalam struktur organisasi maupun anak buah yang berada dibawah kita dalam struktur organisasi.

Berpikir secara Konsep

Kesanggupan untuk menghasilkan konsep baru/ rumusuan / formulasi /usulan perencanaan dan program secara kreatif untuk menjawab kebutuhan dan masalah yang dihadapi atau menghasilkan pemikiran yang bersifat terobosan dalam keuntungan berbisnis.

 

 

Tujuan :

1. Market leader number one in sales, volume, and market share. Yakni menjadi pemimpin

Distributor alat-alat teknik  dalam bisnis toko riteal  dengan volume penjualan nomor satu.

2.Best distribution network, yakni memiliki jaringan distribusi yang luas

3.Menjadi pusat alat teknik yang paling berkualitas dan selalu membuat inovasi baru dalam pasar penjualan.

4.Terus menjadikan yang terdepan.

 

Marketing MIX Perusahaan

  1. Produk

CV.Micro Jaya Abadi berusaha untuk selalu  memenuhi kebutuhan pasar dengan persaingan yang sangat ketat, Dengan memnjadi salah satu distributor merk Dynabarade dan BAO yang belum pernah ada di Indonesia , Micro Jaya Abadi dapat memperkenalkan produk-produk lain seperti Cooper Power Tool, Standard Abrasives, 3M Distributor, Menzerna, dan CardScan. Dengan banyak sekali persaing pasar yang sangat ketat CV. Micro Jaya Abadi tidak hanya menjual itu saja tetapi menjual produk Makita Maktec, BOSCH, dan alat teknik lainnya.

2. Price

Dengan persaingan yang sangat ketat CV, Micro Jaya Abadi mampu memberikan harga yang sangat berpariatif dengan harga yang bisa dusesuaikan dengan harga pasar tanpa merusak harga pasar

3. Place

Berhubungan dengan banyak sekali permintaan konsumen dari berbagai daerah CV. Micro Jaya Abadi mampu untuk membuka gerai cabang cabang yang ada diseluruh pulau Jawa.

4. Promotion

CV. Micro Jaya Abadi memberikan promise yang sangat menarik mulai dari GIVE VOCHER, memberikan member gratis kepada setiap pelanggan yang belanja diatas 2juta, dan juga diskon-diskon produk yang menarik pelanggan untuk dapat berbelanja di Micro.

 

Analisis Internal Perusahaan :

Perusahaan berfokus pada  rantai distribusi alat industry, yang selalu maju dalam peralatan industry  dan selalu mengupdate technology yang akan dipasarkan di masyarakat dan perusyahaan yang membutuhkan alat industry, selain itu selalu menghasilkan konsep baru/ rumusuan / formulasi /usulan perencanaan dan program secara kreatif untuk menjawab kebutuhan dan masalah yang dihadapi atau menghasilkan pemikiran yang bersifat terobosan dalam keuntungan berbisnis.

Analisis Eksternal Perusahaan :

CV . Micro Jaya Abadi adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang bisnis pemasaran alat-alat teknik.Konsep pemasarannya adalah dalam bentuk Swalayan alat-alat teknik yang modern dengan memberikan nama TOOL STATION,membuat konsep swalayan seperti AJBS yang menjual peralatan yang sama.

TOOL STATION vs AJBS

Dengan berdirinya AJBS  pada tahun 1981, AJBS  mampu memberikan nuansa penjualan alat teknik berbeda dengan lainnya. AJBS  memberikan penjualan harga yang kompetitif dan berfariatif selain itu juga memberikan diskon-diskon yang menarik, tetapi disisi lain AJBS tidak mampu memberikan kualitas barang yang baik. Dan secara tidak langsung dapat membuat pelanggannya berkurang.Lain halnya dengan TOOL STATION, Tool Station  merupakan sebuah perusahaan yang tidak sebesar AJBS namun menawarkan produk-produk unggulan dan berkinerja hebat. Promosi produk yang menarik,diskon yang menguntungkan bagi pelanggan dan produk yang dijual oleh Tool Station   juga dikenal karena kualitasnya yang bagus.Tool Station  berhasil menemukan tren utama dalam industri alat teknik dan berinvestasi secara agresif. Oleh karena itu kondisi penjualan Tool Station dapat dikatakan lebih baik daripada AJBS.

AJBS memiliki cabang toko ritael modern yang cukup luas dipulau jawa yang lebih banyak daripada Tool station.AJBS memiliki pabrik produksi baut di Sidoarjo tepatnya dikrian, Tool station memang kalah dari AJBS dalam segala segi produksi baut, karena Tool station tidak membuat produksi sendiri melainkan hanya sebagai distributo. Namun Tool station lebih sigap memanfaatkan peluang-peluang dan merancang strateginya, sebagai contoh strategi dalam menciptakan brand-marketing, dalam bidang sponsorship, R n D, dan desain web yang menarik pada saat mengunjungi blok situsnya.

Analisis SWOT Pada Tool Station

Identifikasi Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (Ancaman) :

Strength :

  • Tool Station memiliki harga produk yang lebih murah dan berkualitas
  • Tool Station selalu memberikan harga yang kompetitif untuk pelanggan yang akan menjual barangnya lagi.
  • Tool Station menawarkan produk-produk yang berkualitas
  • Tool Station memberikan produk-produk unggulun yang up to date, yang sesuai dengan kebutuhan pasar industry.
  • Promosi-promosi harga tiap bulannya yang menarik pelanggan.
  • Memeberikan keuntungan kepada pelanggan setia dengan memberikan member card setiap pembelanjaan 2juta atau lebih secara gratis.

Weaknes :

  • Tool station harus terus menerus memaintain semua biaya untuk tetap sukses
  • Investasi tinggi pada kativitas R&D (menginvestasikan paling sedikit 9% dari pendapatan penjualan pada aktivitas R&D)
  • Budaya korporasi yang tidak fleksibel
  • Pengalaman dalam mengelolah perusahaan untuk lebih maju masih terbatas
  • Adanya tekanan yang ketat pada karyawan untuk mancapai sasaran
  • Tool Station belum memiliki jaringan penjualan dan pelayanan yang sebanding dengan pesaingnya

Opportunity :

  • Produk-produk yang ditawrarkan Tool Station  merupakan produk keperluan untuk pertukangan yang dicari
  • Era teknoligi yang makin canggih yang harus terus dikembangkan
  • Adanya peningkatan permintaan masyarakat dan perusahaan yang membutuhkan alat teknik akan barang-barang industry teknik yang sudah merupaka suatu kebutuhan
  • Pengaruh globalisasi yang mendorong pemasaran barang teknik yang tiada batas
  • Permintaan masyarakat pada produk-produk yang gaya, best practice, simple dan respon yang cepat pada perubahan pasar

Therat :

  • Semakin banyaknya toko-toko alat teknik di Indonesia
  • Terjadinya krisis financial yang menyebabkan turunya daya beli pada  masyarakat
  • Adanya produk-produk dari perusahaan lain yang menawarkan harga yang lebih mudah dengan kualitas yang tidak kalah bagus
  • Konsumen memiliki banyak pilihan terhadap toko lain yang harganya lebih murah
  • Lingkungan bisnis yang sangat tidak pasti dan pasar yang semakin kompetitif

 

 

Untuk rating faktor Strength diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Kuat
  • Rating 2          : Agak Kuat
  • Rating 3          : Kuat
  • Rating 4          : Sangat Kuat

Untuk rating faktor Weakness diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Lemah
  • Rating 2          : Agak Lemah
  • Rating 3          : Lemah
  • Rating 4          : Sangat Lemah

Untuk rating faktor Threat diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Mengancam
  • Rating 2          : Agak Mengancam
  • Rating 3          : Mengancam
  • Rating 4          : Sangat Mengancam

Untuk rating faktor Opportunity diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Peluang
  • Rating 2          : Agak Peluang
  • Rating 3          : Peluang
  • Rating 4          : Sangat Peluang

Sejarah RS
 

Awalnya

Padatahun 1937, darigarasi yang dikunci di North-West London, J H Waringdan P M SebestyenmendirikanperusahaanbernamaRadiospares, yang memasokkomponen radio ketokoreparasi radio.Dari sinilah RS memulaiperjalanannyauntukmenjadipemimpinpasarsaatini.

 

Menghadirkandistribusidengantingkatlayanantinggi RS ke Asia Selatan

RS memulaioperasinya di Asia Selatan padatahun 1995 denganmengakuisisidistributornya yang terdahulu di Singapura.Padatahun 1996 dan 1997, kami mendirikankantor, masing-masing di Malaysia dan Filipina.Denganmenonjolkan model bisnissebagaipenyedialayanankelastinggi, kami memperluaskehadiran kami di Thailand padatahun 2006.Di atassemuaitu, kami melayanipelangganmelaluijaringan distributor setempat yang kami pilihsecaracermat di berbagainegara, termasuk Indonesia, Brunei, Kamboja, dan Laos.

 

Mendukungparapelanggan di seluruhdunia

RS yang menduniasekarangberoperasi di 26 negara, mencakupsemuapasarekonomiutama di Eropa, Amerika Utara, Australasia dan Asia.RS yang menyediakanlayananpengiriman di hari yang samadengantingkatlayanan yang tinggi, sekarangmencakupsemuakotabesar di Asia, termasuk China.

RS jugamencakup 160 negara di seluruhduniamelaluijaringan distributor.

Selamatdatang di RS
RS adalah distributor terkemuka yang menanganilebihdari 450.000 produk online dari 2.500 merek global yang berkisardarikomponenelektronik, elektro-mekanika, kontrol proses dan automat hinggaberagamluasprodukpendukung, yang semuanyadisimpan di 16 gudang di seluruhdunia.

 

RangkaianKatalog RS

Produkkatalog kami selalutersedia di gudang di dekatAnda, siapuntuklangsungdikirimataspesananAnda.Selainitu, produkdidukungolehaksesmudahkelembar data danbantuanteknissecara gratis.Kami selaluberpendapatbahwapencariansumberdanpemilihanproduk yang Andabutuhkanharusselaludapatdilakukandenganmudahdanlangsung.Olehsebabitulah, Katalog RS edisi 2011 kami yang barudanlebihbaiksekarangsemakinbesardanbagusdaripada yang terdahulu, denganlebihdari 75.000 produk yang bersumberdari 2.500 produsenterkemuka.

 

RangkaianPerluasan RS

Selainprodukpersediaan, kami pun memilikilebihdari 350.000 produklainnyadalamRangkaianPerluasan online kami.SemuaprodukRangkaianPerluasaninihanyadapatdilihatmelalui RS ONLINE denganberbagaiprodukbaru yang ditampilkansepanjangtahun.

 

Pencarianmelalui web yang lebihbaik

Sekarangbahkanlebihcepatdanmudahmenemukandanmemesanproduksecara online.Masukkannamaprodukataunomorkomponenuntukaksescepatkegambardaninformasiproduk yang cocokdenganpencarianAnda.Denganlebihdari 1 jutaatributprodukuntukdipilih, AndasekarangdapatmempersempitpencarianAndadalamhitungandetik.Andajugadapatmengecekketersediaanstokdanmelihatpenawaranterbaru kami secara online.

Andamemilikisemuainformasi yang diperlukan di ujungjariAndasehinggamudahmerambanhalaman web kami sepertimembalik-balikhalamankatalog kami.

 

Hargalebihrendahuntukjumlah yang lebihbesar

Manfaatkanlahharga online yang lebihbaikuntukpesanandalamjumlah yang lebihbesar.Kolomtambahandiskonuntukprodukpilihansudahditambahkanke RS Online untukmemastikanAndamenikmatiharga yang lebihbaikuntukjumlah yang lebihbesar.

Menemukan yang Andabutuhkanbelumpernahsemudahini.

 

Internet Media Masa Depan

Sejarah Internet

Internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, melalui proyekARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana denganhardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research InstituteUniversity of CaliforniaSanta Barbara,University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu pada tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negaratersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.

Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Internet dan Masa Depan Media Cetak

Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.

Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.

Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?

Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?

Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk di antaranya tidak membaca koran.

Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil bertemu teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.

Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way. Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.

Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?

Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reders Digest juga tak luput dari kebangkrutan.

Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.

Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.

Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.

Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.

Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming satu dekade lalu.

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

Versi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.

Sejarah Internet

Internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, melalui proyekARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana denganhardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research InstituteUniversity of CaliforniaSanta Barbara,University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu pada tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negaratersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.

Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Internet dan Masa Depan Media Cetak

Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.

Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.

Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?

Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?

Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk di antaranya tidak membaca koran.

Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil bertemu teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.

Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way. Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.

Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?

Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reders Digest juga tak luput dari kebangkrutan.

Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.

Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.

Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.

Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.

Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming satu dekade lalu.

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

Versi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.

Sejarah Internet

Internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, melalui proyekARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana denganhardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research InstituteUniversity of CaliforniaSanta Barbara,University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu pada tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negaratersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.

Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Internet dan Masa Depan Media Cetak

Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.

Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.

Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?

Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?

Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk di antaranya tidak membaca koran.

Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil bertemu teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.

Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way. Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.

Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?

Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reders Digest juga tak luput dari kebangkrutan.

Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.

Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.

Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.

Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.

Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming satu dekade lalu.

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

Versi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.